Mengapa kurikulum 2013 diganti menjadi kurikulum merdeka – Perubahan kurikulum di Indonesia selalu menarik perhatian, dan pergantian Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka tak terkecuali. Bukan sekadar perubahan nama, ini adalah langkah besar yang menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin dinamis dan menuntut siswa untuk memiliki kemampuan abad 21.
Kurikulum Merdeka hadir dengan filosofi dan tujuan yang berbeda, berharap membentuk generasi penerus bangsa yang siap menghadapi masa depan.
Kurikulum 2013, yang diluncurkan pada tahun 2013, dirancang dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi persaingan global. Namun, dalam perjalanannya, muncul sejumlah permasalahan yang mengakibatkan ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan.
Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan pada tahun 2026, merupakan solusi untuk mengatasi kelemahan tersebut dan membuka jalan baru dalam dunia pendidikan Indonesia.
Latar Belakang Pergantian Kurikulum: Mengapa Kurikulum 2013 Diganti Menjadi Kurikulum Merdeka
Kurikulum 2013, yang diterapkan secara bertahap sejak tahun 2013, menjadi tonggak penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Kurikulum ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan berakhlak mulia. Namun, seiring berjalannya waktu, sejumlah tantangan dan kendala muncul dalam implementasinya.
Hal ini mendorong Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk melakukan evaluasi dan merevisi kurikulum tersebut. Hasilnya, Kurikulum Merdeka hadir sebagai alternatif yang diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi.
Kurikulum 2013: Tujuan, Struktur, dan Implementasi
Kurikulum 2013, yang juga dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), didesain dengan beberapa tujuan utama, yaitu:
- Meningkatkan kualitas pendidikan dengan fokus pada pengembangan kompetensi siswa.
- Membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, berwawasan kebangsaan, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
- Menciptakan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman dan perkembangan teknologi.
- Membangun budaya belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Struktur Kurikulum 2013 terdiri dari:
- Standar Kompetensi Lulusan (SKL): Menentukan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah menyelesaikan pendidikan.
- Standar Isi (SI): Merinci materi pelajaran yang harus diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
- Standar Proses (SP): Menentukan metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien.
- Standar Penilaian (SP): Menentukan metode dan instrumen penilaian yang digunakan untuk mengukur capaian pembelajaran siswa.
Implementasi Kurikulum 2013 dilakukan secara bertahap, dimulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Kurikulum ini diaplikasikan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Ketahui dengan mendalam seputar keunggulan paradigma pengertian ciri fungsi jenis pergeseran dan penerapannya yang bisa menawarkan manfaat besar.
Permasalahan dalam Penerapan Kurikulum 2013
Meskipun memiliki tujuan yang mulia, penerapan Kurikulum 2013 di lapangan menghadapi sejumlah permasalahan, antara lain:
- Beban belajar yang tinggi dan padat, yang dapat membebani siswa dan guru.
- Keterbatasan sumber daya, seperti buku pelajaran, alat peraga, dan fasilitas belajar.
- Kesulitan dalam menyesuaikan kurikulum dengan kondisi dan karakteristik daerah.
- Kurangnya pelatihan dan pendampingan bagi guru dalam menerapkan Kurikulum 2013.
- Ketidakseragaman pemahaman dan implementasi Kurikulum 2013 di berbagai sekolah.
Contoh Konkret Permasalahan dalam Kurikulum 2013
Sebagai contoh, di beberapa sekolah, siswa mengeluhkan beban belajar yang terlalu berat. Mereka merasa terbebani dengan banyaknya tugas dan ujian yang harus dikerjakan, sehingga waktu luang mereka untuk beristirahat dan mengembangkan minat dan bakat menjadi terbatas. Hal ini juga berdampak pada guru, yang dituntut untuk menguasai materi pelajaran yang luas dan beragam, serta harus mampu menerapkan metode pembelajaran yang efektif dalam waktu yang terbatas.
Perbandingan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam penerapan Kurikulum 2013, Kemendikbudristek meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan kemandirian bagi satuan pendidikan dalam menentukan arah dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
| Aspek | Kurikulum 2013 | Kurikulum Merdeka |
|---|---|---|
| Tujuan | Meningkatkan kualitas pendidikan, membentuk karakter, dan menciptakan sistem pendidikan yang relevan dengan zaman | Membangun pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengembangkan kompetensi abad 21, dan memfasilitasi kreativitas dan inovasi |
| Struktur | Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi (SI), Standar Proses (SP), dan Standar Penilaian (SP) | Fleksibilitas dalam menentukan materi pelajaran, metode pembelajaran, dan penilaian |
| Implementasi | Diterapkan secara bertahap dan wajib di semua sekolah | Diterapkan secara bertahap dan menjadi pilihan bagi sekolah |
| Beban Belajar | Beban belajar yang padat dan terstruktur | Beban belajar yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa |
| Pengembangan Karakter | Fokus pada pembentukan karakter melalui nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa | Fokus pada pengembangan karakter melalui pembelajaran yang bermakna dan berorientasi pada pengembangan diri |
Filosofi dan Tujuan Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka merupakan program pendidikan yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Program ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dalam menentukan kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Filosofi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka didasarkan pada filosofi “Merdeka Belajar”yang menekankan pentingnya kemandirian, kreativitas, dan karakterdalam proses pembelajaran. Filosofi ini tercermin dalam struktur dan implementasi kurikulum yang dirancang untuk mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan bertanggung jawab dalam belajar. Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Tujuan Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:
- Meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
- Membangun karakter siswa yang berakhlak mulia, berintegritas, dan bertanggung jawab.
- Memperkuat kompetensi siswa di abad 21, seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka.
- Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
- Memperkuat peran guru sebagai fasilitator dan mentor bagi siswa.
Contoh Implementasi Kurikulum Merdeka
Salah satu contoh implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran yang ingin mereka pelajari. Misalnya, siswa dapat memilih untuk mempelajari mata pelajaran yang berhubungan dengan bidang minat mereka, seperti seni, musik, atau teknologi. Selain itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter dan minat siswa. Contohnya, sekolah dapat mengadakan kegiatan seperti klub debat, klub sains, atau klub seni.
Perbedaan Pendekatan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, Mengapa kurikulum 2013 diganti menjadi kurikulum merdeka
Berikut tabel yang menunjukkan perbedaan pendekatan dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka:
| Aspek | Kurikulum 2013 | Kurikulum Merdeka |
|---|---|---|
| Fokus | Pengetahuan dan keterampilan | Pengetahuan, keterampilan, dan karakter |
| Struktur | Terstruktur dan terpusat | Fleksibilitas dan otonomi |
| Implementasi | Terpusat dan seragam | Berbasis sekolah dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa |
| Penilaian | Berfokus pada hasil belajar | Berfokus pada proses dan hasil belajar |
| Peran guru | Sebagai pengajar | Sebagai fasilitator dan mentor |
Pengembangan Kompetensi dan Karakter
Kurikulum Merdeka dirancang untuk membangun siswa yang memiliki kompetensi dan karakter yang kuat, siap menghadapi tantangan di masa depan. Kurikulum ini mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan individu.
Pengembangan Kompetensi Siswa
Kurikulum Merdeka mendukung pengembangan kompetensi siswa dengan fokus pada pembelajaran yang holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kurikulum ini mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
- Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas kepada guru dalam memilih dan mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Hal ini memungkinkan siswa untuk mempelajari materi yang lebih relevan dengan kehidupan nyata dan mengembangkan minat mereka.
- Kurikulum Merdeka mendorong penggunaan berbagai metode pembelajaran yang aktif, seperti proyek, diskusi, dan pembelajaran berbasis masalah. Metode-metode ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif dalam memecahkan masalah.
- Kurikulum Merdeka mendorong penilaian yang autentik, yang mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam konteks nyata. Hal ini membantu siswa untuk mengembangkan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.
Contoh Kegiatan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka
Salah satu contoh kegiatan pembelajaran yang mendukung pengembangan kompetensi siswa dalam Kurikulum Merdeka adalah proyek berbasis masalah. Dalam proyek ini, siswa diajak untuk memecahkan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA, siswa dapat diminta untuk meneliti penyebab pencemaran air di lingkungan sekitar mereka dan merancang solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Melalui proyek ini, siswa akan belajar untuk:
- Menerapkan pengetahuan dan keterampilan IPA dalam memecahkan masalah nyata.
- Bekerja sama dengan teman sekelas dalam tim.
- Menyusun laporan hasil penelitian.
- Membuat presentasi hasil penelitian.
Pengembangan Karakter Siswa
Kurikulum Merdeka mendorong pengembangan karakter siswa dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran. Kurikulum ini juga mendorong siswa untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, berakhlak mulia, dan memiliki integritas.
“Kurikulum Merdeka mendorong siswa untuk menjadi individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki integritas. Hal ini dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, toleransi, dan kejujuran.”
Kunjungi tahapan proyek inisiasi perencanaan pelaksanaan pemantauan dan penutupan untuk sukses untuk melihat evaluasi lengkap dan testimoni dari pelanggan.
Contoh Kegiatan Pengembangan Karakter Siswa
Contoh kegiatan yang mendukung pengembangan karakter siswa dalam Kurikulum Merdeka adalah kegiatan ekstrakurikuler yang menitikberatkan pada pengembangan karakter, seperti kegiatan sosial, keagamaan, dan seni budaya. Misalnya, kegiatan sosial seperti bakti sosial, membantu sesama, dan penggalangan dana dapat menumbuhkan rasa empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial siswa.
Kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, dan kegiatan keagamaan lainnya dapat menumbuhkan nilai-nilai spiritual dan moral siswa. Kegiatan seni budaya seperti musik, tari, dan teater dapat menumbuhkan kreativitas, rasa estetika, dan rasa cinta terhadap budaya bangsa.
Peran Guru dan Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka hadir sebagai angin segar dalam dunia pendidikan Indonesia. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi guru dan sekolah dalam mendesain proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal. Implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan peran aktif dari semua pihak, terutama guru dan sekolah.
Peran Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Guru memegang peranan kunci dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Mereka dituntut untuk menjadi fasilitator pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
- Mendesain Pembelajaran yang Menarik dan Bermakna: Guru dituntut untuk mendesain pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa, dengan memanfaatkan berbagai metode pembelajaran aktif dan berbasis proyek.
- Memfasilitasi Pembelajaran Berdiferensiasi: Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan belajar masing-masing siswa. Guru diharapkan mampu menganalisis kebutuhan siswa dan memberikan layanan pembelajaran yang tepat.
- Memanfaatkan Teknologi dalam Pembelajaran: Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkaya proses pembelajaran, seperti penggunaan aplikasi pembelajaran, video edukatif, dan platform online lainnya.
- Mengembangkan Kompetensi Diri: Guru perlu mengembangkan kompetensi diri, khususnya dalam hal pedagogik, teknologi, dan komunikasi. Mereka juga harus mampu berkolaborasi dengan guru lain dan pihak terkait untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Contoh Konkret Peran Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Sebagai contoh, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, seorang guru dapat menggunakan metode pembelajaran proyek untuk mengajak siswa membuat film pendek yang mengangkat tema budaya lokal. Dalam prosesnya, siswa dapat belajar menulis naskah, berakting, mengoperasikan kamera, dan mengedit video. Selain itu, guru dapat memanfaatkan platform online untuk memberikan tugas dan materi pembelajaran, serta memantau kemajuan belajar siswa.
Guru juga dapat berkolaborasi dengan guru lain untuk berbagi materi dan pengalaman pembelajaran.
Peran Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Sekolah harus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyediakan sumber daya yang memadai bagi guru dan siswa.
- Membangun Budaya Sekolah yang Mendukung: Sekolah perlu membangun budaya sekolah yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, yaitu budaya yang mendorong kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.
- Memberikan Pelatihan dan Pengembangan Profesional bagi Guru: Sekolah harus memberikan pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam menerapkan Kurikulum Merdeka.
- Memfasilitasi Akses Teknologi dan Sumber Daya Pembelajaran: Sekolah perlu menyediakan akses teknologi dan sumber daya pembelajaran yang memadai bagi guru dan siswa.
- Membangun Kemitraan dengan Pihak Eksternal: Sekolah dapat membangun kemitraan dengan pihak eksternal, seperti perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan industri, untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
Contoh Konkret Peran Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Salah satu contoh konkret peran sekolah dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka adalah dengan menyediakan ruang belajar yang fleksibel dan dilengkapi dengan fasilitas teknologi. Sekolah juga dapat menggandeng perguruan tinggi untuk menyelenggarakan program pelatihan bagi guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Sekolah juga dapat menjalin kemitraan dengan industri untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk magang dan belajar langsung dari praktisi.
Tantangan dan Peluang Implementasi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka, yang menggantikan Kurikulum 2013, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan Indonesia. Implementasi Kurikulum Merdeka di berbagai jenjang pendidikan memiliki sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Di sisi lain, Kurikulum Merdeka juga menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka
Tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka dapat dikategorikan menjadi beberapa hal.
- Kesadaran dan Penerimaan Guru:Salah satu tantangan utama adalah kesiapan dan penerimaan guru terhadap Kurikulum Merdeka. Guru perlu memahami konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka secara menyeluruh. Kurangnya pelatihan dan pendampingan yang memadai dapat menghambat proses adaptasi guru.
- Akses Teknologi:Kurikulum Merdeka menitikberatkan pada pembelajaran berbasis teknologi. Namun, akses terhadap teknologi di berbagai daerah di Indonesia masih belum merata. Kesenjangan akses teknologi dapat menjadi penghambat dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
- Ketersediaan Sumber Daya:Kurikulum Merdeka membutuhkan sumber daya yang memadai, seperti buku teks, modul pembelajaran, dan perangkat lunak. Keterbatasan sumber daya dapat menghambat proses implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah-sekolah.
- Kolaborasi Antar Stakeholder:Implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan kolaborasi yang kuat antar stakeholder, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat. Kurangnya koordinasi dan komunikasi dapat menghambat proses implementasi Kurikulum Merdeka.
Cara Mengatasi Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka
Mengatasi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan upaya yang komprehensif.
- Pelatihan dan Pendampingan Guru:Pemerintah perlu menyediakan program pelatihan dan pendampingan yang intensif bagi guru. Pelatihan harus dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan, serta disesuaikan dengan kebutuhan guru di lapangan.
- Peningkatan Akses Teknologi:Pemerintah dan pihak swasta perlu bekerja sama untuk meningkatkan akses teknologi di berbagai daerah di Indonesia. Program penyediaan internet gratis di sekolah dan program pelatihan digital bagi guru dapat membantu mengatasi tantangan ini.
- Peningkatan Ketersediaan Sumber Daya:Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengadaan sumber daya yang dibutuhkan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Program bantuan buku teks dan modul pembelajaran bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan dapat membantu mengatasi keterbatasan sumber daya.
- Peningkatan Kolaborasi Antar Stakeholder:Pemerintah perlu memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi yang efektif antar stakeholder. Forum diskusi, workshop, dan kegiatan bersama dapat membantu meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Peluang Implementasi Kurikulum Merdeka
Di balik tantangannya, Kurikulum Merdeka menawarkan sejumlah peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
- Pembelajaran yang Lebih Berpusat pada Siswa:Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya.
- Pengembangan Karakter dan Kompetensi Abad 21:Kurikulum Merdeka menekankan pengembangan karakter dan kompetensi abad 21, seperti kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
- Peningkatan Kualitas Guru:Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Program pelatihan dan pendampingan yang memadai dapat meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru.
- Inovasi dan Kreativitas:Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif.
Contoh Konkret Peluang Kurikulum Merdeka
Contoh konkret dari peluang yang ditawarkan oleh Kurikulum Merdeka adalah penerapan pembelajaran proyek.
- Pembelajaran Proyek:Kurikulum Merdeka mendorong penerapan pembelajaran proyek, di mana siswa belajar dengan melakukan proyek yang terintegrasi dengan berbagai mata pelajaran. Misalnya, dalam proyek “Mengenal Lingkungan Sekitar”, siswa dapat belajar tentang biologi, geografi, dan seni.
Pergantian Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka menandai langkah tegas dalam menjawab tantangan dunia pendidikan modern. Kurikulum Merdeka mendorong pengembangan potensi siswa secara holistik, memberdayakan guru, dan memberikan kebebasan bagi sekolah untuk menentukan arah pembelajaran.
Tantangan dan peluang yang disuguhkan Kurikulum Merdeka menuntut komitmen bersama dari semua pihak untuk mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan generasi yang berkualitas dan berkarakter.
Kenapa sih ganti kurikulum lagi? Ribet aja.
Saya setuju dengan perubahan ini. Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi. Semoga implementasinya berjalan lebih baik dari Kurikulum 2013, yang katanya kurang sesuai dengan kondisi lapangan, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Tapi, apa bedanya Kurikulum Merdeka dengan KTSP? Ada yang tau gak, khususnya soal biaya implementasi? Dulu waktu Kurikulum 2013, banyak sekolah yang kesulitan karena masalah anggaran. Gimana dengan anggaran untuk implementasi di sekolah-sekolah di wilayah Jawa Timur, khususnya di daerah Surabaya?
Dulu waktu saya masih sekolah, sering banget gonta-ganti buku pelajaran. Terus, soal penilaian juga beda-beda. Sekarang, katanya Kurikulum Merdeka lebih fokus ke kompetensi siswa, ya? Semoga beneran bisa bikin siswa lebih paham, bukan cuma ngejar nilai tinggi buat UNBK aja.
Pergantian kurikulum ini memang perlu dievaluasi secara berkala. Kita harus memastikan bahwa pendidikan di Indonesia terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pembentukan karakter dan pengembangan kompetensi siswa harus menjadi prioritas utama. Bagaimana dengan pelatihan guru? Apakah guru-guru sudah siap menghadapi perubahan ini, apalagi soal penggunaan teknologi dan implementasi model pembelajaran yang baru? Perlu ada perhatian khusus untuk pelatihan guru di seluruh tingkatan, mulai dari jenjang SD sampai SMA.