Dalam kerangka bulan suci Ramadhan, shalat tarawih menjadi salah satu ibadah yang dinanti-nantikan umat Muslim. Memahami landasan hukum pelaksanaan shalat tarawih menurut Nahdlatul Ulama (NU) adalah esensial. Pembahasan ini akan mengupas tuntas mengenai dalil shalat tarawih NU, mulai dari dasar hukum yang kuat hingga praktik pelaksanaannya yang sesuai dengan tuntunan agama.
Melalui kajian ini, akan diungkap esensi spiritual dalam shalat tarawih, menggali dalil-dalil utama yang menjadi landasan hukum, serta menyoroti peran vitalnya dalam mempererat ukhuwah Islamiyah. Lebih dari itu, akan disajikan panduan praktis dan detail pelaksanaan shalat tarawih yang sesuai dengan ajaran NU, memberikan pemahaman komprehensif bagi setiap Muslim yang ingin menjalankan ibadah ini dengan khusyuk dan penuh makna.
Menyelami Esensi Spiritual Shalat Tarawih dalam Perspektif Nahdlatul Ulama

Shalat Tarawih, sebuah ritual yang sarat makna, menjelma menjadi oase spiritual bagi umat Muslim di bulan Ramadhan. Lebih dari sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, tarawih adalah jembatan yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta. Nahdlatul Ulama (NU), sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki pandangan mendalam tentang esensi spiritual dalam pelaksanaan shalat tarawih. Pemahaman ini tidak hanya memperkaya pengalaman ibadah, tetapi juga menguatkan ikatan batiniah dengan Allah SWT.
Artikel ini akan mengupas tuntas makna spiritual shalat tarawih menurut pandangan NU, serta memberikan panduan praktis untuk memaksimalkan pengalaman spiritual tersebut. Mari kita selami lebih dalam.
Mengungkap Makna Spiritual Shalat Tarawih
Shalat Tarawih, dalam perspektif NU, bukan hanya sekadar ibadah sunnah yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Ia adalah momentum penting untuk meningkatkan kualitas spiritual seorang Muslim. Pelaksanaan tarawih yang khusyuk dan penuh penghayatan dapat membawa seseorang lebih dekat kepada Allah SWT. Berikut adalah beberapa aspek yang memperkaya makna spiritual shalat tarawih:
- Pembersihan Diri (Tazkiyatun Nafs): Shalat tarawih menjadi sarana efektif untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan. Dengan melaksanakan shalat tarawih secara rutin, seorang Muslim secara konsisten memperbaharui komitmennya untuk menjauhi perbuatan dosa dan mendekatkan diri kepada kebaikan.
- Peningkatan Keimanan (Taqwiyatul Iman): Melalui shalat tarawih, keimanan seorang Muslim akan semakin meningkat. Saat melaksanakan shalat, terutama saat mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, hati akan tersentuh dan keyakinan kepada Allah SWT semakin kuat.
- Penguatan Ukhuwah Islamiyah: Shalat tarawih juga menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan sesama Muslim. Pelaksanaan shalat berjamaah di masjid atau musholla menciptakan suasana kebersamaan dan saling mendukung dalam kebaikan.
- Pembentukan Karakter (Tarbiyatul Akhlaq): Shalat tarawih mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Nilai-nilai ini akan membentuk karakter seorang Muslim menjadi lebih baik dan lebih berkualitas.
- Momentum Muhasabah Diri: Waktu yang dihabiskan dalam shalat tarawih adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah (introspeksi) diri. Seseorang dapat merenungkan perbuatan-perbuatannya selama ini, serta merencanakan perbaikan diri di masa mendatang.
Dengan memahami makna-makna spiritual tersebut, diharapkan umat Muslim dapat melaksanakan shalat tarawih dengan lebih khusyuk dan penuh penghayatan. Hal ini akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan diri kepada Allah SWT.
Panduan Praktis Mengoptimalkan Pengalaman Spiritual Shalat Tarawih
Untuk meraih pengalaman spiritual yang optimal dalam shalat tarawih, diperlukan panduan praktis yang dapat diterapkan. Ajaran NU menekankan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan agar ibadah tarawih menjadi lebih bermakna. Berikut adalah beberapa tips yang relevan:
- Persiapan Diri yang Matang: Sebelum melaksanakan shalat tarawih, pastikan diri dalam keadaan suci, baik secara fisik maupun batin. Berwudhu dengan sempurna, berpakaian yang bersih dan rapi, serta niatkan ibadah karena Allah SWT.
- Menjaga Kekhusyukan: Upayakan untuk menjaga kekhusyukan selama shalat. Hindari pikiran yang melayang-layang, fokus pada bacaan dan gerakan shalat, serta hadirkan hati dan pikiran sepenuhnya kepada Allah SWT.
- Memperhatikan Bacaan dan Makna: Usahakan untuk memahami bacaan-bacaan shalat, terutama bacaan dalam surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek yang dibaca dalam shalat. Renungkan makna dari setiap ayat yang dibaca, sehingga shalat menjadi lebih bermakna.
- Memperbanyak Tadabbur Al-Quran: Dengarkan dengan seksama lantunan ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan oleh imam. Cobalah untuk memahami makna dari ayat-ayat tersebut, serta mengambil hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
- Berdoa dengan Khusyuk: Manfaatkan waktu setelah shalat tarawih untuk berdoa kepada Allah SWT. Sampaikan segala hajat dan permohonan dengan penuh kerendahan hati, serta perbanyak istighfar untuk memohon ampunan-Nya.
- Mengikuti Imam dengan Baik: Ikuti gerakan dan bacaan imam dengan tertib dan khusyuk. Hindari gerakan-gerakan yang tidak perlu, serta fokus pada ibadah yang sedang dijalankan.
- Berpartisipasi dalam Kegiatan Masjid: Jika memungkinkan, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di masjid selama bulan Ramadhan, seperti kajian, tadarus Al-Quran, atau kegiatan sosial lainnya. Hal ini akan semakin memperkaya pengalaman spiritual dan mempererat tali silaturahmi.
- Mengatur Waktu Istirahat yang Cukup: Shalat tarawih biasanya dilaksanakan pada malam hari, sehingga penting untuk mengatur waktu istirahat yang cukup agar tubuh tetap bugar dan dapat melaksanakan ibadah dengan optimal.
Dengan menerapkan panduan praktis ini, diharapkan umat Muslim dapat memaksimalkan pengalaman spiritual selama shalat tarawih. Hal ini akan membawa dampak positif terhadap peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan diri kepada Allah SWT.
Amalan Sunnah dalam Shalat Tarawih Menurut NU, Dalil shalat tarawih nu
Dalam pelaksanaan shalat tarawih, terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan oleh NU. Amalan-amalan ini bertujuan untuk menyempurnakan ibadah dan meraih pahala yang berlimpah. Berikut adalah daftar amalan sunnah yang dianjurkan dalam shalat tarawih, beserta penjelasan singkat mengenai keutamaan masing-masing amalan:
| Amalan | Penjelasan | Keutamaan |
|---|---|---|
| Membaca Niat Shalat Tarawih | Membaca niat shalat tarawih sebelum memulai shalat, baik secara lisan maupun dalam hati. | Menegaskan niat ibadah dan membedakan antara shalat fardhu dan sunnah. |
| Membaca Surat Al-Fatihah | Membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. | Merupakan rukun shalat yang wajib dipenuhi. |
| Membaca Surat Pendek atau Ayat Al-Quran | Membaca surat pendek atau beberapa ayat Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat. | Mendapatkan pahala membaca Al-Quran dan menambah kekhusyukan dalam shalat. |
| Membaca Doa Iftitah | Membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama. | Menyempurnakan shalat dan memohon rahmat dari Allah SWT. |
| Membaca Shalawat Nabi | Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah salam pada setiap dua rakaat. | Mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW dan meningkatkan kecintaan kepada beliau. |
| Membaca Doa Qunut (jika ada) | Membaca doa qunut pada rakaat terakhir shalat witir (biasanya pada separuh kedua bulan Ramadhan). | Memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. |
| Memperbanyak Zikir dan Doa | Memperbanyak zikir dan doa setelah selesai shalat tarawih. | Mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. |
| Menunaikan Shalat Witir | Melaksanakan shalat witir setelah selesai shalat tarawih. | Menyempurnakan ibadah shalat malam dan mendapatkan pahala yang besar. |
| Memberi Sedekah | Memberi sedekah kepada fakir miskin atau kepada orang yang membutuhkan. | Mendapatkan pahala sedekah dan membersihkan harta. |
Dengan mengamalkan sunnah-sunnah ini, diharapkan umat Muslim dapat meraih keberkahan dan pahala yang berlimpah dalam melaksanakan shalat tarawih.
Ilustrasi Suasana Khidmat Shalat Tarawih di Masjid NU
Bayangkan sebuah masjid megah dengan arsitektur khas Jawa yang kokoh berdiri. Di malam Ramadhan yang cerah, cahaya rembulan menerangi halaman masjid yang luas. Di dalam masjid, ratusan jamaah, dari berbagai usia, memenuhi ruangan. Mereka berdiri rapat dalam barisan yang rapi, dengan sajadah yang terhampar di bawah kaki mereka. Imam berdiri di depan, memimpin shalat dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan.
Lampu-lampu gantung kristal menerangi ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan khidmat. Di dinding masjid, kaligrafi indah ayat-ayat suci Al-Quran terpampang, mengingatkan jamaah akan keagungan Allah SWT. Aroma wangi dupa dan minyak wangi semerbak di udara, menambah kekhusyukan suasana. Saat imam membaca ayat-ayat Al-Quran, jamaah terdiam, menyimak dengan penuh perhatian. Beberapa jamaah terlihat meneteskan air mata, tersentuh oleh keindahan dan makna dari ayat-ayat yang dibacakan.
Setelah shalat, jamaah duduk bersila, mendengarkan tausiyah singkat dari seorang kiai yang bijaksana. Beliau menyampaikan pesan-pesan kebaikan, mengingatkan jamaah akan pentingnya meningkatkan iman dan taqwa di bulan Ramadhan. Suasana kebersamaan begitu terasa, di mana setiap jamaah saling berbagi senyum dan sapaan. Anak-anak kecil bermain dengan riang di halaman masjid, sementara orang dewasa berbincang-bincang sambil menunggu waktu sahur. Suasana khidmat dan kebersamaan ini menjadi ciri khas shalat tarawih di masjid NU, sebuah pengalaman spiritual yang tak terlupakan.
Dalil Shalat Tarawih: Kajian Hukum dari Perspektif Nahdlatul Ulama
Shalat tarawih, ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan, memiliki kedudukan penting dalam tradisi keagamaan umat Islam, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Pelaksanaan shalat tarawih tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar umat. Dalam konteks ini, pemahaman mendalam mengenai dasar hukum (dalil) shalat tarawih menjadi krusial. Kajian ini akan mengupas tuntas landasan hukum shalat tarawih dari sudut pandang NU, mengidentifikasi dalil-dalil utama, menganalisis interpretasinya, serta menyoroti bagaimana NU menyikapi perbedaan pendapat yang ada.
Membedah Dasar Hukum (Dalil) Shalat Tarawih: Kajian Mendalam dari Perspektif NU
Landasan hukum shalat tarawih dalam pandangan NU bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Kedua sumber utama ini menjadi pijakan utama dalam menentukan hukum suatu amalan dalam Islam. NU, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, merujuk pada kedua sumber tersebut dengan penafsiran yang komprehensif, mempertimbangkan konteks historis, sosial, dan budaya. Berikut adalah beberapa dalil utama yang menjadi landasan hukum shalat tarawih menurut NU:
- Al-Qur’an: Meskipun secara eksplisit Al-Qur’an tidak menyebutkan secara langsung tentang shalat tarawih, NU merujuk pada beberapa ayat yang secara umum mendorong umat Islam untuk melakukan ibadah di malam hari, termasuk di bulan Ramadhan. Contohnya adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Muzzammil (73:2-4): ” Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) separuhnya atau kurangi sedikit dari separuh itu, atau lebihkan dari separuh itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” Ayat ini, meskipun tidak spesifik tentang tarawih, memberikan dorongan umum untuk menghidupkan malam dengan ibadah, yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk shalat tarawih.
NU melihat ayat ini sebagai anjuran untuk memperbanyak ibadah di malam hari, termasuk shalat sunnah seperti tarawih. Interpretasi NU menekankan pentingnya menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Relevansi ayat ini terletak pada semangat untuk memaksimalkan waktu di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Hadis Nabi Muhammad SAW: Hadis-hadis Nabi menjadi sumber utama yang menjelaskan secara detail tentang pelaksanaan shalat tarawih. Salah satu hadis yang menjadi landasan penting adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, yang menceritakan tentang Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid. Hadis ini menjadi dasar bagi NU dalam menetapkan hukum sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi shalat tarawih.
Interpretasi NU terhadap hadis ini menekankan bahwa Nabi SAW melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, meskipun pada awalnya tidak dilakukan secara rutin untuk menghindari anggapan wajib oleh umat. Relevansi hadis ini sangat besar karena memberikan contoh langsung dari Nabi SAW tentang pelaksanaan shalat tarawih, yang kemudian menjadi pedoman bagi umat Islam, termasuk NU.
- Hadis Lainnya: Selain hadis di atas, NU juga merujuk pada hadis-hadis lain yang berkaitan dengan keutamaan shalat malam di bulan Ramadhan. Misalnya, hadis yang menyebutkan tentang keutamaan shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh keimanan dan harapan pahala dari Allah SWT, yang akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Interpretasi NU terhadap hadis-hadis ini menekankan pentingnya menjaga kualitas shalat tarawih, mulai dari niat yang ikhlas hingga kekhusyukan dalam pelaksanaannya.
Relevansi hadis-hadis ini terletak pada motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan, sehingga mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT.
NU dalam menginterpretasi dalil-dalil ini menggunakan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan antara pemahaman literal (tekstual) dan kontekstual. NU juga mempertimbangkan maslahah (kemaslahatan) umat dalam menentukan hukum. Pendekatan ini memastikan bahwa hukum yang ditetapkan sesuai dengan semangat ajaran Islam, sekaligus relevan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat.
Periksa bagaimana proses pengharaman riba bisa mengoptimalkan kinerja dalam sektor Kamu.
Perbedaan Pendapat (Khilafiyah) dalam Shalat Tarawih: Sikap NU
Perbedaan pendapat (khilafiyah) mengenai beberapa aspek dalam shalat tarawih, seperti jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaannya, adalah hal yang lumrah dalam sejarah Islam. NU, dalam menyikapi perbedaan ini, mengedepankan prinsip toleransi (tasamuh) dan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). NU mengakui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan menghargai berbagai mazhab yang ada. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai sikap NU terhadap perbedaan pendapat dalam shalat tarawih:
- Jumlah Rakaat: Perbedaan paling mencolok adalah mengenai jumlah rakaat shalat tarawih. Ada yang berpendapat 8 rakaat (ditambah witir), merujuk pada praktik Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Sementara itu, ada pula yang berpendapat 20 rakaat (ditambah witir), berdasarkan praktik di masa Khalifah Umar bin Khattab dan diamalkan oleh mayoritas ulama dari berbagai mazhab. NU, dalam hal ini, tidak memaksakan satu pendapat tertentu.
NU mengakui kedua pendapat tersebut, dan memberikan kebebasan kepada umat untuk memilih sesuai dengan keyakinan dan kenyamanan masing-masing. NU menekankan bahwa perbedaan jumlah rakaat tidak mengurangi keutamaan shalat tarawih.
- Tata Cara Pelaksanaan: Perbedaan lainnya terletak pada tata cara pelaksanaan shalat tarawih, seperti bacaan doa qunut, jeda istirahat, dan penggunaan tasbih setelah shalat. NU juga mengakui perbedaan ini. NU menekankan pentingnya mengikuti tata cara yang sesuai dengan mazhab yang dianut, serta menjaga kekhusyukan dalam shalat. NU mendorong umat untuk saling menghargai perbedaan, dan tidak saling menyalahkan atau mencela.
- Prinsip Ukhuwah Islamiyah: NU selalu menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan pendapat. NU mengingatkan umat untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk perpecahan. NU mengajak umat untuk saling menghormati, saling mendukung, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. NU juga mendorong umat untuk mencari solusi yang bijak dalam menghadapi perbedaan, dengan mengedepankan dialog dan musyawarah.
- Pentingnya Toleransi: Sikap toleransi merupakan ciri khas NU dalam menyikapi perbedaan. NU mengajarkan umat untuk menerima perbedaan sebagai rahmat dari Allah SWT. NU menekankan bahwa perbedaan adalah sunnatullah (ketentuan Allah), dan tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan. NU mengajak umat untuk fokus pada hal-hal yang menjadi kesepakatan bersama, seperti rukun Islam dan rukun iman.
Dengan mengedepankan prinsip-prinsip di atas, NU berhasil menciptakan suasana yang kondusif bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah shalat tarawih dengan tenang dan khusyuk, tanpa terpengaruh oleh perbedaan pendapat yang ada. NU juga terus berupaya untuk memberikan pemahaman yang benar tentang perbedaan pendapat, sehingga umat dapat bersikap bijak dan dewasa dalam menyikapinya.
Argumen Pendukung dan Penentang Shalat Tarawih: Perspektif NU
Pelaksanaan shalat tarawih, sebagai ibadah sunnah, memiliki argumen-argumen yang mendukung dan menentang. NU, sebagai organisasi yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, memiliki pandangan yang jelas mengenai hal ini. Berikut adalah daftar argumen-argumen yang mendukung dan menentang pelaksanaan shalat tarawih, dengan merujuk pada sumber-sumber otoritatif dari NU:
- Argumen yang Mendukung:
“Shalat tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) pada bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, termasuk shalat tarawih.” (Sumber: Kitab-kitab Fiqih yang menjadi rujukan NU, seperti Fathul Qorib dan Safinatun Najah)
“Pelaksanaan shalat tarawih berjamaah di masjid memiliki keutamaan yang besar, karena dapat mempererat tali silaturahmi antar umat Islam, meningkatkan semangat ibadah, dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.” (Sumber: Penjelasan para ulama NU dalam berbagai kajian dan ceramah)
“Shalat tarawih dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan, karena dapat membantu menjaga kekhusyukan dalam shalat, memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dan memperbanyak doa.” (Sumber: Buku-buku motivasi dan panduan ibadah yang diterbitkan oleh NU)
- Argumen yang Menentang (atau Lebih Tepat, yang Perlu Diperhatikan):
“Perlu diperhatikan bahwa shalat tarawih bukanlah kewajiban, sehingga tidak boleh ada paksaan dalam pelaksanaannya. Umat Islam diberi kebebasan untuk memilih, apakah melaksanakan shalat tarawih di masjid secara berjamaah, atau di rumah secara sendiri-sendiri.” (Sumber: Fatwa-fatwa dan penjelasan para ulama NU)
“Dalam melaksanakan shalat tarawih, hendaknya memperhatikan kemampuan diri. Jangan sampai pelaksanaan shalat tarawih justru memberatkan diri, sehingga mengganggu aktivitas ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an atau melakukan amalan-amalan sunnah lainnya.” (Sumber: Nasihat-nasihat para ulama NU dalam berbagai kesempatan)
“Perlu diingat bahwa tujuan utama dari ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat tarawih, hendaknya menjaga niat yang ikhlas, kekhusyukan, dan kesungguhan dalam beribadah.” (Sumber: Buku-buku tasawuf dan akhlak yang menjadi rujukan NU)
NU, dalam menyikapi argumen-argumen ini, menekankan pentingnya keseimbangan. NU mendukung pelaksanaan shalat tarawih sebagai ibadah yang dianjurkan, namun juga mengingatkan umat untuk tidak berlebihan dan tetap menjaga kualitas ibadah. NU juga menekankan pentingnya menjaga toleransi dan ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan shalat tarawih.
Argumentasi Hukum Shalat Tarawih: Kombinasi Dalil, Qiyas, dan ‘Urf dalam Pandangan NU
NU membangun argumentasi hukum shalat tarawih dengan mengkombinasikan berbagai sumber hukum, yaitu dalil-dalil syar’i (Al-Qur’an dan Hadis), qiyas (analogi), dan ‘urf (tradisi yang baik). Pendekatan ini mencerminkan karakteristik NU yang mengedepankan pendekatan yang komprehensif dan kontekstual dalam menetapkan hukum. Berikut adalah bagaimana NU mengkombinasikan ketiga elemen tersebut:
- Dalil Syar’i sebagai Landasan Utama: NU menjadikan dalil syar’i (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai landasan utama dalam menetapkan hukum shalat tarawih. NU merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk menghidupkan malam hari dengan ibadah, serta hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang pelaksanaan shalat tarawih. Penafsiran terhadap dalil-dalil ini dilakukan secara mendalam, dengan mempertimbangkan konteks historis, sosial, dan budaya.
- Qiyas (Analogi) untuk Melengkapi: Dalam beberapa kasus, NU menggunakan qiyas (analogi) untuk melengkapi argumentasi hukum shalat tarawih. Misalnya, jika terdapat permasalahan yang belum secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis, NU akan melakukan analogi dengan permasalahan yang serupa, yang sudah ada hukumnya. Qiyas ini membantu NU untuk memberikan solusi hukum yang relevan dengan perkembangan zaman.
- ‘Urf (Tradisi yang Baik) sebagai Pelengkap: NU juga mempertimbangkan ‘urf (tradisi yang baik) dalam menetapkan hukum shalat tarawih. ‘Urf yang dimaksud adalah tradisi yang telah menjadi kebiasaan baik di masyarakat, yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, tradisi membaca doa qunut dalam shalat witir pada bulan Ramadhan, yang telah menjadi kebiasaan di kalangan umat Islam di Indonesia, juga diperkuat oleh NU. NU melihat ‘urf sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
- Kombinasi yang Harmonis: NU mengkombinasikan ketiga elemen ini secara harmonis. Dalil syar’i menjadi dasar utama, qiyas digunakan untuk melengkapi, dan ‘urf menjadi pelengkap. Kombinasi ini menghasilkan argumentasi hukum yang kuat, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. NU selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan antara aspek tekstual (dalil syar’i) dan kontekstual (qiyas dan ‘urf).
- Contoh Penerapan: Sebagai contoh, dalam menentukan jumlah rakaat shalat tarawih, NU merujuk pada hadis-hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang shalat malam. NU juga mempertimbangkan praktik yang dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW, termasuk Khalifah Umar bin Khattab, yang melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat. Selain itu, NU juga mempertimbangkan ‘urf yang berkembang di masyarakat, di mana pelaksanaan shalat tarawih 20 rakaat telah menjadi tradisi yang kuat.
Dengan menggabungkan ketiga elemen ini, NU memberikan panduan yang jelas tentang pelaksanaan shalat tarawih.
Pendekatan NU ini mencerminkan semangat Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan moderasi, toleransi, dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Dengan mengkombinasikan dalil syar’i, qiyas, dan ‘urf, NU berhasil memberikan solusi hukum yang komprehensif dan relevan bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah shalat tarawih.
Peran Shalat Tarawih dalam Mempererat Ukhuwah Islamiyah dan Membangun Karakter Muslim Berdasarkan Nilai-nilai NU: Dalil Shalat Tarawih Nu

Bulan Ramadhan adalah momentum istimewa bagi umat Islam, bukan hanya sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga mempererat tali persaudaraan. Shalat Tarawih, sebagai salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, memainkan peran sentral dalam mengokohkan ukhuwah Islamiyah dan membentuk karakter muslim yang berlandaskan nilai-nilai Nahdlatul Ulama (NU). Melalui kebersamaan dalam beribadah, kegiatan sosial, dan pengamalan nilai-nilai keislaman, shalat Tarawih menjadi sarana efektif untuk menciptakan komunitas yang solid dan saling mendukung.
Shalat Tarawih sebagai Penguat Ukhuwah Islamiyah
Shalat Tarawih, yang dilaksanakan secara berjamaah, secara inheren mengandung nilai-nilai kebersamaan yang kuat. Pelaksanaan shalat ini di masjid atau mushola, mengumpulkan umat Islam dari berbagai latar belakang, usia, dan status sosial. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk saling mengenal, berinteraksi, dan membangun rasa persaudaraan. Kebersamaan dalam melaksanakan ibadah ini menjadi perekat yang kuat, menghilangkan sekat-sekat perbedaan, dan menumbuhkan rasa saling memiliki sebagai sesama muslim.
Nilai-nilai kebersamaan yang ditumbuhkan dalam shalat Tarawih tercermin dalam beberapa aspek:
- Kebersamaan dalam Ibadah: Pelaksanaan shalat Tarawih secara berjamaah mengajarkan pentingnya kesatuan dan kekompakan dalam beribadah. Imam dan makmum bahu-membahu melaksanakan shalat, mengikuti gerakan dan bacaan dengan tertib. Hal ini melatih kedisiplinan, kepatuhan, dan rasa tanggung jawab bersama.
- Saling Pengertian: Dalam jamaah, setiap individu belajar untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Mereka belajar untuk menahan diri dari perilaku yang dapat mengganggu kekhusyukan orang lain dalam beribadah. Saling pengertian ini menjadi dasar bagi terciptanya hubungan yang harmonis dan saling mendukung.
- Gotong Royong: Pelaksanaan shalat Tarawih seringkali melibatkan kegiatan gotong royong, seperti persiapan tempat, penyediaan konsumsi, dan pengelolaan kegiatan. Hal ini menumbuhkan semangat saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan. Gotong royong menjadi wujud nyata dari nilai-nilai persaudaraan dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, shalat Tarawih bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga sarana yang efektif untuk membangun dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Melalui kebersamaan, saling pengertian, dan gotong royong, shalat Tarawih menciptakan komunitas yang solid, saling mendukung, dan memiliki semangat kebersamaan yang tinggi.
Kegiatan Sosial dan Keagamaan di Lingkungan NU Selama Ramadhan
Bulan Ramadhan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) selalu diwarnai dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat tali silaturahmi. Kegiatan-kegiatan ini seringkali berkaitan erat dengan pelaksanaan shalat Tarawih, menciptakan suasana yang penuh keberkahan dan semangat berbagi.
Beberapa contoh nyata kegiatan sosial dan keagamaan yang sering diselenggarakan selama bulan Ramadhan di lingkungan NU:
- Pengajian Rutin: Sebelum atau sesudah shalat Tarawih, seringkali diadakan pengajian rutin yang membahas berbagai tema keislaman, seperti tafsir Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan tasawuf. Pengajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat tentang ajaran agama, memperkaya wawasan keislaman, dan memperkuat keimanan.
- Buka Bersama: Buka bersama menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari bulan Ramadhan. Kegiatan ini seringkali diselenggarakan di masjid, mushola, atau rumah-rumah warga. Buka bersama menjadi momen untuk berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan merasakan kebersamaan dalam suasana yang penuh kehangatan.
- Pemberian Santunan: NU juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti pemberian santunan kepada anak yatim, kaum dhuafa, dan fakir miskin. Santunan ini dapat berupa uang, sembako, atau pakaian. Kegiatan ini bertujuan untuk meringankan beban hidup mereka, meningkatkan kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat berbagi.
- Penyelenggaraan Pesantren Kilat: Beberapa lembaga pendidikan NU menyelenggarakan pesantren kilat selama bulan Ramadhan. Pesantren kilat memberikan pendidikan agama yang intensif kepada anak-anak dan remaja, seperti pembelajaran Al-Qur’an, fiqih, akhlak, dan sejarah Islam.
- Safari Ramadhan: Pengurus NU seringkali mengadakan safari Ramadhan, yaitu kegiatan kunjungan ke berbagai daerah untuk bersilaturahmi dengan masyarakat, memberikan ceramah agama, dan memberikan bantuan sosial. Safari Ramadhan bertujuan untuk menyebarkan syiar Islam, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan-kegiatan tersebut mencerminkan komitmen NU dalam menjalankan ajaran Islam secara komprehensif, tidak hanya fokus pada aspek ritual, tetapi juga pada aspek sosial dan kemasyarakatan. Melalui kegiatan-kegiatan ini, NU berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kualitas ibadah, mempererat tali persaudaraan, dan membangun masyarakat yang sejahtera.
Perubahan Hidup Seseorang Melalui Shalat Tarawih
Rutin melaksanakan shalat Tarawih dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perubahan sikap dan perilaku seseorang. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai NU yang menekankan pentingnya pembentukan karakter yang baik, berlandaskan pada ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Pengalaman seseorang yang konsisten melaksanakan shalat Tarawih dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.
Ambil contoh, seorang bernama Ahmad. Sebelum Ramadhan, Ahmad dikenal sebagai pribadi yang kurang disiplin, mudah marah, dan kurang peduli terhadap sesama. Namun, sejak rutin melaksanakan shalat Tarawih, perubahan positif mulai terlihat dalam dirinya.
- Meningkatnya Kedisiplinan: Ahmad mulai belajar untuk mengatur waktu dengan lebih baik. Ia bangun lebih awal untuk sahur, datang tepat waktu ke masjid untuk shalat Tarawih, dan berusaha menghindari hal-hal yang dapat mengganggu ibadahnya. Kedisiplinan ini kemudian merembet ke aktivitas sehari-harinya, seperti dalam pekerjaan dan hubungan sosial.
- Mengendalikan Emosi: Dalam suasana Ramadhan, Ahmad belajar untuk menahan diri dari amarah dan perilaku negatif lainnya. Ia lebih sabar dalam menghadapi tantangan dan lebih mampu mengendalikan emosinya. Hal ini didukung oleh khutbah dan pengajian yang mengingatkan tentang pentingnya menjaga lisan dan perbuatan.
- Meningkatnya Kepedulian Sosial: Ahmad mulai lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Ia aktif mengikuti kegiatan sosial di masjid, seperti membantu menyediakan makanan untuk buka bersama, memberikan santunan kepada anak yatim, dan membersihkan lingkungan masjid. Kepedulian sosial ini tumbuh dari kesadaran akan pentingnya berbagi rezeki dan membantu sesama.
- Meningkatnya Kualitas Ibadah: Ahmad merasakan peningkatan kualitas ibadahnya. Ia lebih khusyuk dalam shalat, lebih sering membaca Al-Qur’an, dan lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah sunnah lainnya. Ia merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang luar biasa.
Perubahan yang dialami Ahmad adalah contoh nyata bagaimana shalat Tarawih dapat membentuk karakter yang lebih baik. Melalui kebersamaan dalam beribadah, Ahmad belajar tentang kedisiplinan, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan peningkatan kualitas ibadah. Perubahan ini sejalan dengan nilai-nilai NU yang menekankan pentingnya akhlakul karimah dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks ini, Kamu akan melihat bahwa denda jimak saat haid sangat menarik.
Shalat Tarawih sebagai Sarana Meningkatkan Solidaritas Sosial
Shalat Tarawih tidak hanya berfungsi sebagai ibadah ritual, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi rezeki dan membantu sesama. Hal ini sejalan dengan ajaran NU tentang solidaritas sosial, yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkan.
Beberapa cara shalat Tarawih berkontribusi dalam meningkatkan solidaritas sosial:
- Munculnya Kesadaran untuk Berbagi: Pelaksanaan shalat Tarawih di masjid atau mushola seringkali diikuti dengan kegiatan pengumpulan donasi, baik untuk pembangunan masjid, kegiatan sosial, maupun untuk membantu kaum dhuafa. Hal ini menumbuhkan kesadaran umat akan pentingnya berbagi rezeki dan membantu sesama.
- Terciptanya Suasana Saling Membantu: Saat shalat Tarawih, seringkali terdapat kegiatan menyediakan makanan untuk berbuka puasa bersama. Hal ini melibatkan gotong royong dari jamaah, mulai dari penyediaan bahan makanan, memasak, hingga menyajikan makanan. Suasana saling membantu ini mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan semangat kebersamaan.
- Peningkatan Kepedulian Terhadap Lingkungan: Shalat Tarawih juga mendorong umat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Banyak masjid dan mushola yang mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan sebelum atau sesudah shalat Tarawih. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada aspek ritual, tetapi juga mencakup aspek sosial dan lingkungan.
- Munculnya Inisiatif Sosial: Pelaksanaan shalat Tarawih seringkali menjadi pemicu munculnya inisiatif sosial dari masyarakat. Misalnya, terbentuknya kelompok-kelompok yang aktif memberikan bantuan kepada korban bencana, memberikan beasiswa kepada anak-anak kurang mampu, atau mengadakan kegiatan sosial lainnya.
Dengan demikian, shalat Tarawih menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan semangat solidaritas sosial. Melalui kegiatan pengumpulan donasi, buka bersama, kegiatan bersih-bersih lingkungan, dan munculnya inisiatif sosial, shalat Tarawih menciptakan lingkungan yang peduli terhadap sesama dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan ajaran NU yang menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap kaum dhuafa.
Menyusun Tata Cara dan Praktik Shalat Tarawih yang Sesuai dengan Ajaran NU

Shalat Tarawih, sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadhan, memiliki kekhasan dalam pelaksanaannya. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki panduan yang jelas mengenai tata cara dan praktik shalat Tarawih. Panduan ini bertujuan untuk memastikan ibadah dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat, sekaligus menjaga tradisi yang telah mengakar di kalangan umat Islam di Indonesia. Artikel ini akan menguraikan secara rinci tata cara, waktu pelaksanaan, dan hal-hal terkait shalat Tarawih menurut panduan NU.
Pelaksanaan shalat Tarawih yang benar tidak hanya melibatkan gerakan fisik, tetapi juga niat yang tulus dan doa yang khusyuk. Pemahaman yang baik tentang tata cara ini akan membantu umat Islam dalam menjalankan ibadah Tarawih dengan lebih sempurna dan mendapatkan keberkahan yang lebih besar di bulan Ramadhan.
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih Menurut Panduan NU
Tata cara shalat Tarawih yang sesuai dengan panduan NU mencakup beberapa aspek penting, mulai dari niat hingga doa setelah selesai shalat. Berikut adalah uraian detailnya:
1. Niat
Niat merupakan fondasi utama dalam setiap ibadah. Niat shalat Tarawih diucapkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram (mengangkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan Allahu Akbar). Berikut adalah contoh niat shalat Tarawih:
Ushalli sunnatat-taraawiihi rak’ataini lillaahi ta’aalaa. (Saya niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala).
Jika shalat Tarawih dilakukan berjamaah, niatnya adalah:
Ushalli sunnatat-taraawiihi rak’ataini makmuman lillaahi ta’aalaa. (Saya niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala).
2. Pelaksanaan Shalat
Shalat Tarawih dilaksanakan dalam bentuk dua rakaat salam. Setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Berikut adalah rincian gerakan dan bacaan dalam setiap rakaat:
- Rakaat Pertama:
- Takbiratul Ihram: Mengangkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan Allahu Akbar.
- Membaca Doa Iftitah (sunnah).
- Membaca surat Al-Fatihah.
- Membaca surat pendek dari Al-Quran (sunnah).
- Ruku’: Membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut, membaca tasbih “Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi wa bi hamdihi” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya) sebanyak tiga kali.
- I’tidal: Bangun dari ruku’ sambil mengangkat kedua tangan dan membaca “Sami’allaahu liman hamidah, Rabbanaa lakal hamdu” (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji).
- Sujud: Sujud dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki di lantai, membaca tasbih “Subhaana Rabbiyal A’laa wa bi hamdihi” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan dengan memuji-Nya) sebanyak tiga kali.
- Duduk di antara dua sujud: Duduk dengan tenang, membaca doa “Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii” (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku).
- Sujud kedua: Kembali sujud seperti sujud pertama.
- Rakaat Kedua:
- Bangun dari sujud, membaca Al-Fatihah.
- Membaca surat pendek dari Al-Quran.
- Ruku’, I’tidal, Sujud, Duduk di antara dua sujud, Sujud kedua (seperti pada rakaat pertama).
- Tasyahud Akhir: Duduk tasyahud akhir, membaca tahiyat, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan doa.
- Salam: Mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.
3. Jumlah Rakaat
Shalat Tarawih umumnya dilaksanakan sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat shalat witir. Namun, NU juga memperbolehkan pelaksanaan shalat Tarawih sebanyak 8 rakaat dengan tetap menjalankan shalat witir. Pelaksanaan 8 rakaat seringkali dipilih untuk menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan jamaah, tanpa mengurangi keutamaan ibadah.
4. Doa Setelah Shalat
Setelah selesai melaksanakan shalat Tarawih, dianjurkan untuk membaca doa. Doa yang dibaca bisa bervariasi, namun umumnya berisi pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, permohonan ampunan, dan doa-doa kebaikan dunia dan akhirat. Membaca doa setelah shalat Tarawih adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Panduan Waktu Pelaksanaan Shalat Tarawih Menurut NU
Waktu pelaksanaan shalat Tarawih memiliki ketentuan yang perlu diperhatikan. Panduan dari NU memberikan arahan yang jelas mengenai waktu terbaik dan hal-hal yang perlu diperhatikan terkait waktu tersebut. Berikut adalah panduan lengkapnya:
1. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan shalat Tarawih dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar (masuk waktu shalat Subuh). Waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat Tarawih adalah setelah shalat Isya dan sebelum shalat witir. Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang selalu melaksanakan shalat Tarawih setelah shalat Isya.
2. Waktu Terbaik
Waktu terbaik untuk melaksanakan shalat Tarawih adalah pada sepertiga malam terakhir. Namun, karena keterbatasan waktu dan kemampuan, pelaksanaan setelah Isya juga sangat dianjurkan. Penting untuk menjaga konsistensi dalam melaksanakan shalat Tarawih, baik di awal maupun di akhir malam. Pelaksanaan shalat Tarawih di awal waktu juga memberikan kesempatan lebih banyak untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk sahur.
3. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
- Kesiapan Fisik dan Mental: Pastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan baik sebelum melaksanakan shalat Tarawih. Hindari melakukan aktivitas berat sebelum shalat agar dapat fokus dan khusyuk dalam beribadah.
- Kekhusyukan: Jaga kekhusyukan selama melaksanakan shalat. Hindari berbicara, bermain-main, atau melakukan hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat.
- Menyesuaikan dengan Kondisi Jamaah: Dalam pelaksanaan berjamaah, imam hendaknya memperhatikan kondisi jamaah. Sebaiknya, bacaan surat dan durasi shalat disesuaikan agar jamaah tidak merasa kesulitan atau kelelahan.
- Memperhatikan Waktu Istirahat: Di sela-sela shalat Tarawih, disunnahkan untuk beristirahat sejenak. Istirahat ini biasanya diisi dengan membaca dzikir, shalawat, atau mendengarkan tausiyah singkat.
4. Hukum Melaksanakan di Akhir Waktu
Shalat Tarawih tetap sah dilaksanakan di akhir waktu, yaitu sebelum masuk waktu Subuh. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jika khawatir waktu Subuh akan tiba, sebaiknya shalat witir didahulukan. Pelaksanaan shalat Tarawih di akhir waktu memberikan kesempatan bagi mereka yang memiliki kesibukan di awal malam untuk tetap melaksanakan ibadah ini.
Infografis: Langkah-Langkah Pelaksanaan Shalat Tarawih
Berikut adalah infografis yang memuat langkah-langkah pelaksanaan shalat Tarawih secara visual:
1. Niat:
Sebuah ilustrasi orang mengangkat tangan ke arah dada dengan mata terpejam, menampilkan ekspresi khusyuk. Di sampingnya terdapat tulisan “Ushalli sunnatat-taraawiihi rak’ataini lillaahi ta’aalaa” (Saya niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala).
2. Takbiratul Ihram:
Ilustrasi seseorang mengangkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Tampilan visual ini disertai dengan keterangan singkat mengenai gerakan dan bacaan yang dilakukan.
3. Membaca Al-Fatihah:
Gambar seseorang sedang membaca Al-Fatihah dalam posisi berdiri. Tampilan visual dilengkapi dengan tulisan yang menunjukkan posisi tangan dan arah pandangan mata.
4. Membaca Surat Pendek:
Ilustrasi seseorang membaca surat pendek Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah. Gambar ini menunjukkan posisi tangan yang berada di samping badan, dengan keterangan singkat tentang surat yang dibaca.
5. Ruku’:
Visual seseorang membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut. Tampilan ini disertai dengan keterangan tentang bacaan tasbih yang dibaca saat ruku’.
6. I’tidal:
Ilustrasi seseorang berdiri tegak setelah ruku’ sambil mengangkat kedua tangan. Keterangan singkat tentang bacaan yang diucapkan saat i’tidal.
7. Sujud:
Gambar seseorang sujud dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki di lantai. Tampilan ini dilengkapi dengan keterangan tentang bacaan tasbih yang dibaca saat sujud.
8. Duduk di Antara Dua Sujud:
Visual seseorang duduk di antara dua sujud dengan posisi kaki yang benar. Keterangan singkat tentang doa yang dibaca saat duduk di antara dua sujud.
9. Tasyahud Akhir:
Ilustrasi seseorang duduk tasyahud akhir, dengan posisi tangan yang benar. Keterangan singkat tentang bacaan tahiyat dan shalawat.
10. Salam:
Gambar seseorang menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam. Keterangan singkat tentang bacaan salam.
Infografis ini akan memberikan panduan visual yang mudah dipahami, terutama bagi mereka yang baru belajar atau ingin menyempurnakan pelaksanaan shalat Tarawih.
Hal-Hal yang Membatalkan, Disunnahkan, dan Dimakruhkan dalam Shalat Tarawih
Dalam melaksanakan shalat Tarawih, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan agar ibadah tetap sah dan mendapatkan pahala yang sempurna. Berikut adalah daftar lengkap mengenai hal-hal yang membatalkan, disunnahkan, dan dimakruhkan dalam shalat Tarawih, yang disusun dalam bentuk :
| Perbuatan | Penjelasan | Hukum | Sumber |
|---|---|---|---|
| Berbicara dengan Sengaja | Berbicara dengan sengaja di luar dzikir dan doa yang disyariatkan, baik perkataan yang banyak maupun sedikit. | Membatalkan shalat | Kitab Fathul Qorib |
| Makan dan Minum dengan Sengaja | Melakukan kegiatan makan dan minum dengan sengaja saat shalat. | Membatalkan shalat | Kitab Al-Umm |
| Bergerak Tiga Kali Berturut-turut | Melakukan gerakan anggota tubuh yang banyak dan berturut-turut di luar gerakan shalat. | Membatalkan shalat | Kitab Hasyiyah Qalyubi wa Umairah |
| Tertawa Terbahak-bahak | Tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan suara yang jelas. | Membatalkan shalat | Kitab Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab |
| Berpaling dari Kiblat | Berpaling dari arah kiblat dengan sengaja. | Membatalkan shalat | Kitab Mughni Al-Muhtaj |
| Niat Membatalkan Shalat | Meniatkan untuk membatalkan shalat di tengah-tengah pelaksanaan. | Membatalkan shalat | Kitab Nihayatul Muhtaj |
| Membaca Surat Pendek Setelah Al-Fatihah | Membaca surat pendek dari Al-Quran setelah membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat. | Sunnah | Kitab I’anatuth Thalibin |
| Membaca Doa Iftitah | Membaca doa iftitah sebelum membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama. | Sunnah | Kitab Rawdhatut Thalibin |
| Membaca Doa Setelah Selesai Shalat | Membaca doa setelah selesai melaksanakan shalat Tarawih. | Sunnah | Kitab Al-Adzkar |
| Beristirahat di Antara Setiap Empat Rakaat | Beristirahat sejenak di antara setiap empat rakaat, biasanya diisi dengan dzikir, shalawat, atau mendengarkan tausiyah singkat. | Sunnah | Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mempercepat Bacaan (Terlalu Cepat) | Membaca bacaan shalat dengan terlalu cepat sehingga tidak memenuhi syarat rukun dan sunnah shalat. | Makruh | Kitab Tuhfatul Muhtaj |
| Melakukan Gerakan yang Tidak Perlu | Melakukan gerakan yang tidak perlu, seperti menggaruk, atau bermain-main. | Makruh | Kitab Hasyiyah Jamal |
| Meninggalkan Sunnah Shalat | Meninggalkan sunnah-sunnah shalat tanpa alasan yang jelas. | Makruh | Kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah |
| Meninggalkan Bacaan Surat Pendek | Meninggalkan bacaan surat pendek setelah Al-Fatihah. | Makruh (jika dilakukan terus-menerus tanpa alasan) | Kitab Mughni Al-Muhtaj |
Tabel ini memberikan gambaran komprehensif mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan shalat Tarawih. Dengan memahami hal-hal yang membatalkan, disunnahkan, dan dimakruhkan, umat Islam dapat menjalankan ibadah Tarawih dengan lebih baik dan mendapatkan pahala yang maksimal.
Pemungkas

Dari uraian yang mendalam mengenai dalil shalat tarawih NU, jelaslah bahwa ibadah ini bukan hanya ritual, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta. Memahami dasar hukum, tata cara, serta makna di baliknya akan mengantarkan pada pengalaman ibadah yang lebih mendalam dan bermakna. Shalat tarawih, dengan demikian, menjadi sarana efektif untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, membangun karakter mulia, dan meningkatkan kualitas hidup sebagai seorang Muslim sejati.