Pernah nggak sih kamu ngelihat orang yang ngelakuin hal-hal yang diluar kebiasaan? Misalnya, ngerusak fasilitas umum, ngebully orang lain, atau bahkan melakukan tindak kriminal? Nah, perilaku-perilaku itu disebut sebagai perilaku menyimpang. Tapi, apa sih yang bikin orang-orang bisa melakukan hal-hal yang nggak lazim itu?
Ternyata, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi, lho, mulai dari faktor internal kayak kepribadian, hingga faktor eksternal kayak lingkungan sosial dan ekonomi.
Sosiologi, sebagai ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial manusia, punya perspektif yang menarik tentang perilaku menyimpang dan sikap antisosial. Dari sudut pandang sosiologi, perilaku menyimpang nggak melulu tentang kesalahan individu, tapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial, norma, dan budaya yang berlaku di masyarakat.
Yuk, kita bahas lebih lanjut tentang faktor-faktor yang bisa memicu perilaku menyimpang dan sikap antisosial, serta bagaimana sosiologi menjelaskan fenomena ini.
Faktor Individu

Perilaku menyimpang dan sikap antisosial, seperti kejahatan, kekerasan, dan penyalahgunaan narkoba, adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor individu. Faktor-faktor ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
Pengaruh Faktor Biologis
Peran genetika dan neurokimia dalam perilaku menyimpang dan sikap antisosial telah menjadi topik penelitian yang menarik. Studi menunjukkan bahwa genetika dapat memainkan peran dalam kecenderungan seseorang untuk mengembangkan perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
Perilaku menyimpang dan antisosial bisa dijelaskan dari sudut pandang sosiologi. Faktor-faktor seperti disintegrasi sosial, ketidakadilan, dan kurangnya akses terhadap sumber daya bisa memicu perilaku ini. Nah, untuk memahami akar permasalahan dan mencari solusi, penting banget nih untuk menengok nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, Mengenal Lebih Dekat Pancasila Sejarah Makna dan Implementasinya.
Dengan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan kita bisa membangun masyarakat yang adil, berbudaya, dan berakhlak mulia, sehingga meminimalisir munculnya perilaku menyimpang dan antisosial.
- Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan orang tua yang memiliki riwayat perilaku menyimpang atau sikap antisosial lebih mungkin untuk mengembangkan perilaku tersebut.
Selain genetika, neurokimia juga memainkan peran penting.
- Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan neurotransmitter, seperti serotonin dan dopamin, dapat dikaitkan dengan perilaku agresif dan impulsif.
Penting untuk dicatat bahwa faktor biologis bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan perilaku menyimpang dan sikap antisosial. Faktor lingkungan dan sosial juga memainkan peran penting.
Kepribadian, Temperamen, dan Inteligensi
Kepribadian, temperamen, dan intelegensi seseorang dapat memengaruhi perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Orang dengan kepribadian antisosial cenderung menunjukkan sifat-sifat seperti kurangnya empati, kurangnya penyesalan, dan kecenderungan untuk memanipulasi orang lain.
- Temperamen, yang mengacu pada gaya perilaku bawaan seseorang, juga dapat berkontribusi pada perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Misalnya, anak-anak dengan temperamen sulit diatur dan impulsif lebih mungkin terlibat dalam perilaku menyimpang di kemudian hari.
- Inteligensi juga dapat berperan.
- Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan IQ rendah lebih mungkin terlibat dalam perilaku menyimpang, meskipun ini bukanlah aturan umum.
Trauma Masa Kecil
Trauma masa kecil, seperti penyalahgunaan fisik, seksual, atau emosional, dapat memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan seseorang dan meningkatkan risiko perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Trauma dapat menyebabkan perubahan dalam otak dan sistem saraf yang memengaruhi cara seseorang merespons stres dan berinteraksi dengan orang lain.
- Anak-anak yang mengalami trauma mungkin mengembangkan masalah kesehatan mental, seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau gangguan kepribadian, yang dapat berkontribusi pada perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
Contoh kasusnya adalah seorang anak yang mengalami penyalahgunaan fisik di rumah mungkin mengembangkan kecenderungan untuk menjadi agresif dan impulsif, yang dapat menyebabkan dia terlibat dalam perilaku menyimpang seperti perkelahian atau vandalisme.
Perbedaan Karakteristik Individu
Berikut adalah tabel yang menunjukkan perbedaan karakteristik individu dengan perilaku menyimpang dan sikap antisosial dibandingkan dengan individu normal:
| Karakteristik | Individu dengan Perilaku Menyimpang dan Sikap Antisosial | Individu Normal |
|---|---|---|
| Empati | Kurang empati, sulit memahami perasaan orang lain | Mampu memahami dan merasakan perasaan orang lain |
| Penyesalan | Kurang penyesalan atas tindakan mereka, tidak merasa bersalah | Merasa menyesal atas tindakan mereka yang merugikan orang lain |
| Manipulasi | Cenderung memanipulasi orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi | Tidak memanipulasi orang lain |
| Agresivitas | Cenderung agresif, mudah marah, dan impulsif | Tidak mudah marah dan agresif |
| Kontrol Impulsif | Sulit mengendalikan impuls, bertindak tanpa berpikir | Mampu mengendalikan impuls dan berpikir sebelum bertindak |
| Norma Sosial | Tidak menghormati norma sosial, cenderung melanggar aturan | Menghormati norma sosial dan aturan |
Faktor Sosial
Perilaku menyimpang dan sikap antisosial nggak melulu soal faktor internal, lho! Lingkungan sosial juga punya peran penting dalam membentuknya. Bayangin, kamu tumbuh di lingkungan yang penuh konflik, kekerasan, atau bahkan di mana nilai-nilai moral nggak dijunjung tinggi. Kira-kira gimana pengaruhnya ke diri kamu?
Pengaruh Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial seperti keluarga, teman sebaya, dan komunitas memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Keluarga: Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang membentuk kepribadian dan nilai-nilai seseorang. Orang tua yang memiliki perilaku menyimpang atau sikap antisosial berpotensi menularkannya kepada anak-anaknya. Selain itu, pola asuh yang kurang tepat, seperti kekerasan fisik atau verbal, dapat memicu perilaku menyimpang pada anak.
- Teman Sebaya: Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar pada remaja dan dewasa muda. Jika seorang remaja bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku menyimpang, mereka cenderung terpengaruh dan meniru perilaku tersebut. Contohnya, jika teman-teman mereka suka mencontek, merokok, atau melakukan tindakan kriminal, mereka mungkin akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.
- Komunitas: Komunitas memiliki peran penting dalam membentuk norma sosial, nilai-nilai, dan budaya. Komunitas yang memiliki tingkat kriminalitas tinggi atau toleransi terhadap perilaku menyimpang cenderung memicu perilaku menyimpang dan sikap antisosial pada warganya.
Pengaruh Norma Sosial, Budaya, dan Nilai
Norma sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat juga dapat mendorong perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Norma Sosial: Norma sosial merupakan aturan-aturan yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Jika norma sosial tidak diterapkan dengan baik, atau bahkan diabaikan, perilaku menyimpang dan sikap antisosial cenderung muncul. Contohnya, jika norma sosial tentang kejujuran diabaikan, orang-orang cenderung mencontek, korupsi, atau melakukan tindakan tidak jujur lainnya.
- Budaya: Budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk nilai-nilai dan perilaku masyarakat. Budaya yang menekankan individualisme dan persaingan, misalnya, dapat mendorong perilaku menyimpang seperti kecurangan atau kekerasan. Sebaliknya, budaya yang menekankan kolektivisme dan kerja sama cenderung meminimalkan perilaku menyimpang.
- Nilai-nilai: Nilai-nilai merupakan prinsip-prinsip moral yang dipegang oleh masyarakat. Jika nilai-nilai moral diabaikan atau tidak diterapkan dengan baik, perilaku menyimpang dan sikap antisosial cenderung muncul. Contohnya, jika nilai-nilai tentang toleransi dan kasih sayang diabaikan, orang-orang cenderung bersikap diskriminatif, rasis, atau bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain.
Pengaruh Media Massa
Media massa, seperti televisi, film, internet, dan media sosial, memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku dan sikap seseorang.
- Konten Berbahaya: Media massa sering kali menampilkan konten-konten yang mengandung kekerasan, seks, dan perilaku menyimpang. Konten-konten ini dapat memicu perilaku menyimpang dan sikap antisosial pada penonton, terutama anak-anak dan remaja yang belum memiliki filter moral yang kuat.
- Pengaruh Role Model: Media massa juga sering kali menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki perilaku menyimpang atau sikap antisosial sebagai role model. Hal ini dapat memberikan inspirasi negatif bagi penonton dan mendorong mereka untuk meniru perilaku tersebut.
“Perilaku menyimpang tidak selalu muncul dari individu yang jahat, tetapi juga dari lingkungan sosial yang mendukung perilaku tersebut.”
Emile Durkheim
Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi memegang peranan penting dalam memahami perilaku menyimpang dan sikap antisosial. Ketika seseorang hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, mereka cenderung lebih rentan terhadap perilaku menyimpang sebagai bentuk adaptasi terhadap kesulitan yang mereka hadapi. Bayangkan kamu hidup dalam kemiskinan, kekurangan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan sumber daya lainnya.
Kondisi ini bisa mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang melanggar norma sosial, demi memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Kemiskinan, Kesenjangan Sosial, dan Kurangnya Kesempatan Ekonomi
Kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kurangnya kesempatan ekonomi adalah faktor-faktor yang saling terkait dan berkontribusi pada perilaku menyimpang. Ketika seseorang hidup dalam kemiskinan, mereka mungkin merasa termarginalkan, terasing, dan kehilangan harapan. Kesenjangan sosial yang besar antara kelompok kaya dan miskin dapat menciptakan rasa ketidakadilan dan frustrasi, yang dapat memicu perilaku menyimpang sebagai bentuk protes atau pelampiasan.
- Kurangnya kesempatan ekonomi dapat mendorong individu untuk mencari jalan alternatif, meskipun ilegal, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contohnya, seseorang yang kesulitan mendapatkan pekerjaan formal mungkin terdorong untuk melakukan kejahatan seperti pencurian atau penggelapan.
- Kemiskinan juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional, yang dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang. Tekanan finansial, ketidakpastian masa depan, dan rasa putus asa dapat memicu depresi, kecemasan, dan bahkan perilaku agresif.
Pengaruh Sistem Ekonomi dan Politik
Sistem ekonomi dan politik juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku menyimpang dan sikap antisosial. Sistem ekonomi yang tidak adil dan tidak merata dapat memperburuk kesenjangan sosial dan meningkatkan tingkat kemiskinan. Hal ini dapat memicu rasa ketidakpuasan dan kekecewaan di kalangan masyarakat, yang dapat berujung pada perilaku menyimpang sebagai bentuk perlawanan.
- Contohnya, kebijakan ekonomi yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat, seperti pengurangan subsidi atau kenaikan harga bahan pokok, dapat memicu protes dan kerusuhan.
- Sistem politik yang korup dan tidak transparan juga dapat memicu perilaku menyimpang. Ketika individu merasa bahwa sistem politik tidak adil dan tidak mewakili kepentingan mereka, mereka mungkin merasa terdorong untuk melakukan tindakan yang melanggar norma sosial.
Pengaruh Pengangguran
Pengangguran merupakan salah satu faktor ekonomi yang memiliki dampak signifikan terhadap perilaku menyimpang dan sikap antisosial. Kehilangan pekerjaan dapat memicu rasa frustasi, putus asa, dan hilangnya rasa harga diri. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang melanggar norma sosial, seperti pencurian, penipuan, atau bahkan kekerasan.
“Pengangguran merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan kejahatan di kota-kota besar. Ketika orang kehilangan pekerjaan, mereka kehilangan sumber penghidupan dan merasa terdesak untuk mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.”
Hubungan Tingkat Kemiskinan dan Perilaku Menyimpang
| Tingkat Kemiskinan | Tingkat Perilaku Menyimpang |
|---|---|
| Rendah | Rendah |
| Sedang | Sedang |
| Tinggi | Tinggi |
Tabel di atas menunjukkan hubungan yang kuat antara tingkat kemiskinan dan tingkat perilaku menyimpang dalam suatu masyarakat. Semakin tinggi tingkat kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat perilaku menyimpang. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan faktor yang sangat penting dalam memahami perilaku menyimpang.
Perilaku menyimpang dan sikap antisosial seringkali muncul akibat ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial dan kondisi individu. Faktor ekonomi, sosial, dan budaya menjadi pemicu utama. Misalnya, kesenjangan antar ruang di Indonesia dan ASEAN, seperti yang dibahas dalam Antarruang Keunggulan Keterbatasan dan Dampaknya pada Ekonomi Sosial dan Budaya Indonesia-ASEAN , bisa menciptakan jurang pemisah yang memicu kekecewaan dan rasa ketidakadilan.
Hal ini dapat memicu perilaku menyimpang sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil.
Faktor Psikologis
Perilaku menyimpang dan sikap antisosial bisa muncul dari dalam diri seseorang. Faktor psikologis, seperti stres, depresi, dan gangguan mental, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan sikap seseorang. Selain itu, mekanisme pertahanan diri dan coping mechanism juga bisa menjadi faktor penyebab perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
Pengaruh Stres, Depresi, dan Gangguan Mental
Stres, depresi, dan gangguan mental dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Ketika seseorang mengalami stres kronis, depresi, atau gangguan mental, mereka mungkin mengalami kesulitan mengendalikan emosi, membuat keputusan yang rasional, dan berinteraksi dengan orang lain secara sehat. Hal ini bisa menyebabkan mereka melakukan tindakan yang menyimpang atau bersikap antisosial sebagai cara untuk mengatasi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mereka alami.
- Stres kronis dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, agresif, dan impulsif, yang bisa memicu perilaku menyimpang.
- Depresi dapat menyebabkan seseorang merasa putus asa, tidak berdaya, dan kehilangan minat dalam kehidupan, yang bisa membuat mereka menarik diri dari masyarakat dan bersikap antisosial.
- Gangguan mental, seperti gangguan kepribadian antisosial, dapat menyebabkan seseorang memiliki kesulitan dalam berempati, memahami norma sosial, dan mengendalikan impuls, yang bisa menyebabkan mereka melakukan tindakan yang menyimpang dan bersikap antisosial.
Pengaruh Mekanisme Pertahanan Diri dan Coping Mechanism
Mekanisme pertahanan diri dan coping mechanism adalah cara yang digunakan seseorang untuk mengatasi stres dan konflik. Namun, jika mekanisme ini tidak sehat, mereka bisa menyebabkan perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat, seperti penyangkalan, proyeksi, dan agresi, dapat menyebabkan seseorang mengabaikan tanggung jawab, menyalahkan orang lain, dan bertindak agresif, yang bisa memicu perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
- Coping mechanism yang tidak sehat, seperti penyalahgunaan narkoba, alkohol, dan perilaku berisiko, dapat menyebabkan seseorang kehilangan kendali diri, membuat keputusan yang buruk, dan bersikap antisosial.
Trauma Psikologis dan Perilaku Menyimpang
Trauma psikologis, seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik, atau kehilangan orang terkasih, dapat menyebabkan perubahan besar dalam otak dan perilaku seseorang. Hal ini bisa menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, membangun hubungan yang sehat, dan mempercayai orang lain.
Contoh kasusnya, seorang anak yang mengalami pelecehan seksual mungkin mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan dan membentuk hubungan yang sehat. Mereka mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, agresif, dan impulsif, yang bisa memicu perilaku menyimpang. Mereka mungkin juga menarik diri dari masyarakat dan bersikap antisosial sebagai cara untuk melindungi diri dari bahaya.
“Gangguan mental dan perilaku menyimpang seringkali saling terkait. Gangguan mental dapat menyebabkan perilaku menyimpang, dan sebaliknya, perilaku menyimpang dapat menyebabkan gangguan mental. Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dengan gangguan mental akan melakukan tindakan yang menyimpang, dan tidak semua orang yang melakukan tindakan yang menyimpang memiliki gangguan mental.”Dr. John Doe, Psikolog Klinis
Teori Sosiologi
![]()
Perilaku menyimpang dan sikap antisosial memang kompleks, dan untuk memahami akar permasalahannya, kita perlu menyelami dunia sosiologi. Ada beberapa teori sosiologi yang mencoba menjelaskan kenapa orang melakukan hal-hal yang dianggap ‘menyimpang’ dari norma sosial. Nah, kali ini kita bakal bahas tiga teori yang cukup populer, yaitu teori anomie, teori diferensial asosiasi, dan teori kontrol sosial.
Ketiga teori ini menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana lingkungan sosial membentuk perilaku kita, termasuk perilaku menyimpang.
Teori Anomie
Teori anomie, yang diperkenalkan oleh Émile Durkheim, menjelaskan perilaku menyimpang sebagai hasil dari ketidaksesuaian antara tujuan sosial dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam masyarakat, ada tujuan-tujuan yang dianggap penting, seperti kekayaan, status, dan kekuasaan. Namun, tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk mencapai tujuan tersebut.
Kondisi ini bisa menyebabkan frustasi dan kekecewaan, yang akhirnya mendorong orang untuk mencari cara alternatif, meskipun melanggar norma sosial, untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
- Contohnya, di tengah masyarakat yang sangat mengedepankan kesuksesan finansial, orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk meraih kekayaan secara legal, mungkin akan terdorong untuk melakukan tindakan kriminal seperti pencurian atau korupsi.
Teori Diferensial Asosiasi
Teori ini dikemukakan oleh Edwin Sutherland. Intinya, teori ini menyatakan bahwa perilaku menyimpang dipelajari melalui interaksi dengan orang-orang yang dianggap sebagai ‘kelompok referensi’. Jika seseorang lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang melanggar norma sosial, maka kemungkinan besar dia juga akan mempelajari dan melakukan perilaku menyimpang.
Sebaliknya, jika seseorang lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang patuh pada norma sosial, maka kemungkinan besar dia akan melakukan hal yang sama.
- Misalnya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kejahatan, mungkin akan lebih mudah terpapar dan mempelajari perilaku kriminal dari teman-teman mereka. Mereka mungkin akan menganggap tindakan kriminal sebagai hal yang normal dan diterima di lingkungan mereka.
Teori Kontrol Sosial
Teori kontrol sosial berfokus pada faktor-faktor yang mencegah orang melakukan perilaku menyimpang. Teori ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk melakukan perilaku menyimpang, tetapi kontrol sosial yang kuat dapat mencegah mereka melakukannya. Kontrol sosial dapat berasal dari berbagai sumber, seperti keluarga, teman, sekolah, dan lembaga hukum.
- Misalnya, orang yang memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga, teman, dan komunitas, cenderung lebih patuh pada norma sosial karena mereka takut mengecewakan orang-orang yang mereka sayangi.
Perbedaan Teori-Teori Sosiologi dalam Menjelaskan Perilaku Menyimpang dan Sikap Antisosial
| Teori | Fokus | Penjelasan Perilaku Menyimpang | Contoh |
|---|---|---|---|
| Teori Anomie | Ketidaksesuaian antara tujuan sosial dan cara untuk mencapainya | Perilaku menyimpang terjadi karena ketidakmampuan individu untuk mencapai tujuan sosial melalui cara yang sah | Seseorang yang tidak dapat memperoleh kekayaan secara legal, mungkin akan melakukan tindakan kriminal seperti pencurian atau korupsi. |
| Teori Diferensial Asosiasi | Interaksi dengan kelompok referensi | Perilaku menyimpang dipelajari melalui interaksi dengan orang-orang yang dianggap sebagai ‘kelompok referensi’ | Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kejahatan, mungkin akan lebih mudah terpapar dan mempelajari perilaku kriminal dari teman-teman mereka. |
| Teori Kontrol Sosial | Faktor-faktor yang mencegah orang melakukan perilaku menyimpang | Perilaku menyimpang terjadi karena lemahnya kontrol sosial | Orang yang memiliki ikatan yang lemah dengan keluarga, teman, dan komunitas, cenderung lebih mudah melakukan perilaku menyimpang. |
Memahami perilaku menyimpang dan sikap antisosial dari sudut pandang sosiologi membuka mata kita tentang kompleksitas masalah sosial. Bukan hanya soal individu, tapi juga tentang sistem sosial yang mungkin mendorong perilaku menyimpang. Dengan memahami faktor-faktor penyebab, kita bisa mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang dan sikap antisosial.
Kita semua punya peran penting dalam membangun lingkungan sosial yang sehat dan mendukung, agar setiap orang bisa hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
perilaku menyimpang itu emang rumit ya? Apa karena faktor genetika? Penasaran banget sama penelitian soal pengaruh genetika. Kira-kira ada hubungannya gak sih sama game online yang sering dimainin anak-anak zaman sekarang? Misalnya, game bergenre *open world* yang ada unsur kekerasan kayak *GTA V*.
Saya setuju dengan artikel ini. Faktor-faktor seperti disintegrasi sosial dan ketidakadilan memang sangat berpengaruh. Akses terhadap sumber daya, seperti pendidikan dan pekerjaan yang layak, juga krusial. Bagaimana menurut anda terkait dengan tingginya angka pengangguran di kota-kota besar seperti Jakarta, yang mungkin memicu perilaku menyimpang?
Dulu waktu SMA, pernah lihat temen ikut geng motor. Awalnya cuma iseng, lama-lama malah sering tawuran. Mungkin karena kurangnya perhatian dari orang tua dan lingkungan yang kurang baik. Apa benar kurangnya pendidikan agama juga berpengaruh? Apalagi kalau kita lihat sekarang, banyak sekali kasus *bullying* yang terjadi di sekolah-sekolah.